email : mail@unizar.ac.id

dr. Iing Ajak Mahasiswa Kedokteran UNIZAR Kembangkan Pola Pikir Kritis dan Adaptif untuk Hadapi Tantangan Zaman

Dr. dr. Iing, M.Erg, saat memberikan materi pada acara LKMM-SK Dasar Wolf-25, di Gedung Teater Ahmad Firdaus Sukmono Universitas Islam Al-Azhar, pada Sabtu, (18/10/25)

UNIZAR NEWS, Mataram Kemampuan berpikir kritis dan pola pikir yang berkembang (growth mindset) menjadi kunci bagi calon dokter untuk menghadapi tantangan dunia medis yang terus berubah. Pesan itulah yang disampaikan oleh Dr. dr. Iing, M.Erg dalam materinya berjudul “Pola Pikir dan Berpikir Kritis” pada kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa – Studi Kemahasiswaan (LKMM-SK) Dasar Wolf–25 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) yang digelar di Gedung Teater Ahmad Firdaus Sukmono, Sabtu (18/10/25).

Dalam pemaparannya, dr. Iing menekankan pentingnya mahasiswa kedokteran untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan analisis, refleksi, dan fleksibilitas berpikir dalam menghadapi perubahan teknologi, sosial, dan etika profesi medis.

“Kita tidak bisa mengatur respon dunia terhadap kita, tapi kita bisa mengatur respon kita terhadap dunia,” ujar dr. Iing, yang disambut tepuk tangan antusias para peserta.

Materi dimulai dengan pembahasan tentang mindset (pola pikir), yang dibagi menjadi dua tipe utama — fixed mindset dan growth mindset.

Menurut dr. Iing, mahasiswa dengan fixed mindset cenderung takut gagal dan mudah menyerah ketika menghadapi tantangan, sedangkan growth mindset mendorong seseorang untuk terus belajar, berkembang, dan melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk tumbuh.

“Dirimu yang sekarang adalah hasil dari masa lalu. Dirimu di masa depan adalah hasil dari masa sekarang,” tutur dr. Iing dalam salah satu slide presentasinya.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk mengenali faktor-faktor yang memengaruhi pola pikir, seperti pengalaman, kondisi emosional, lingkungan, dan kepercayaan diri. Melalui refleksi ini, mahasiswa diharapkan mampu melihat setiap tantangan sebagai peluang untuk belajar dan memperbaiki diri.

Dr. Iing kemudian memperkenalkan konsep metakognisi, yakni kemampuan untuk berpikir tentang cara berpikir sendiri.

“Sebelum bereaksi terhadap sesuatu, pause dulu. Evaluasi dulu fakta dan asumsi, baru berikan respons,” jelasnya, memperkenalkan langkah reflektif sederhana: Pause – Think – Respond.

Melalui pendekatan ini, mahasiswa dilatih untuk tidak reaktif, melainkan analitis dan bijak dalam menghadapi situasi kompleks — baik dalam kehidupan pribadi, akademik, maupun profesi kedokteran.

Ia mencontohkan perbedaan antara berpikir kritis dalam arti lemah dan berpikir kritis dalam arti kuat. Arti lemah: mempertahankan keyakinan tanpa evaluasi, Arti kuat: berani menilai dan merevisi keyakinan berdasarkan bukti dan logika.

Baca juga: KEUNIZARAN dan Kawasan Tanpa Rokok Jadi Pesan Utama Dr. dr. Iing pada GOU 2025

Bagian utama materi dr. Iing berfokus pada kemampuan berpikir kritis (critical thinking) — yaitu kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil keputusan berdasarkan fakta dan logika, bukan hanya emosi atau asumsi spontan.

Mengutip Paul–Elder Framework (2014), ia menjelaskan bahwa berpikir kritis melibatkan beberapa elemen penting, di antaranya: Menentukan tujuan berpikir, Menggunakan informasi yang valid, Mempertanyakan asumsi, Melihat dari berbagai sudut pandang, Serta mempertimbangkan implikasi keputusan yang diambil.

“Berpikir kritis bukan berarti suka berdebat atau ngeyel. Tapi justru melatih kita untuk tidak serta-merta menerima atau menolak sesuatu — bahkan pendapat kita sendiri,” tegasnya.

Dr. Iing menggambarkan bahwa berpikir kritis bukan sekadar teori, tetapi melahirkan generasi yang memiliki empat karakter utama: Solutif – mampu menganalisis masalah dan menemukan solusi yang efektif, Adaptif – cepat beradaptasi terhadap perubahan tanpa kehilangan arah nilai, Transformatif – memiliki kesadaran untuk memperbaiki dan mengubah keadaan menjadi lebih baik, Unggul – memiliki jiwa pemenang, kuat dalam prinsip, dan menjadi rahmat bagi semesta.

“Adaptif tanpa berpikir kritis itu mudah goyah. Tapi adaptif dengan berpikir kritis akan menjadikan kita tangguh dan selektif — tahu kapan harus berubah, dan kapan harus bertahan,” ujarnya.

Sebagai penutup, dr. Iing menyampaikan bahwa berpikir kritis bukan hanya keterampilan intelektual, tetapi juga pondasi moral dan spiritual untuk menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi lingkungan.

“Berpikir kritis akan membuat kita menjadi generasi yang solutif, adaptif, transformatif, dan unggul — yaitu inti dari generasi yang dapat menjadi rahmatan lil ‘alamin,” pungkasnya.

Melalui materi “Pola Pikir dan Berpikir Kritis”, dr. Iing mengajak mahasiswa Fakultas Kedokteran UNIZAR untuk tidak hanya berpikir cepat, tetapi berpikir dalam. Tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak, reflektif, dan berjiwa pemimpin. Dengan kemampuan ini, mereka diharapkan siap menjadi dokter masa depan yang berpikir jernih, tangguh menghadapi perubahan, dan berorientasi pada kemanusiaan. (Asmadi/Humas)