email : mail@unizar.ac.id

Mengenang Jejak Perjuangan dan Kepemimpinan H. Abdurrahim, SH: Pendiri dan Rektor Pertama Unizar

H. Abdurrahim, SH. (Alm), Pendiri dan Rektor Pertama Universitas Islam Al-Azhar.

UNIZAR STORY, Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) tak hanya menjadi lembaga pendidikan tinggi di Indonesia. Lebih dari itu, Unizar merupakan warisan berharga dari semangat dan perjuangan seorang tokoh ulung, H. Abdurrahim, SH. (Alm). Lahir di Rumbuk, Lombok Timur, pada tanggal 15 Mei 1929, H. Abdurrahim tidak hanya dikenal sebagai salah satu pendiri Unizar, tetapi juga sebagai Rektor pertama Unizar, Sekda Provinsi NTB pertama, dan notaris pertama di NTB. Jabatan terakhir beliau adalah sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi NTB.

Perjalanan pendidikan ilmu hukum H. Abdurrahim dilalui di UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta, tempat yang membentuk pemikirannya sebelum kemudian melangkah sebagai seorang notaris. Namun, jalan hidupnya tak terlepas dari jejak perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Pada tanggal 5 Oktober 1958, beliau dianugerahi piagam penghargaan dari Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Djuanda, sebagai anggota staf MBO DPRI (Markas Besar Oemoem Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia) Resimen Ngurah Rai Sunda Ketjil. Setahun kemudian, Presiden Soekarno juga memberikan Tanda Jasa Pahlawan kepada H. Abdurrahim sebagai penghargaan atas jasa beliau dalam perjuangan gerilya membela kemerdekaan negara, pada tanggal 10 Nopember 1959.

Orang Portugis menyebut bahwa Indonesia (Nusantara) pada saat itu adalah Soenda. Di bagian barat pulau-pulaunya besar disebut Soenda Mayor (Sunda Besar), sedangkan di bagian timur pulau-pulaunya kecil disebut Soenda Minor (Sunda Kecil). Sunda Besar meliputi pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, sedangkan Sunda Kecil meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

Surat Tanda Penghargaan dari Menteri Pertahanan RI, Djuanda, kepada Abdurrahim, SH. sebagai Anggota Staf MBO DPRI Resimen Ngurah Rai Sunda Ketjil.

Dalam rangka memahami sejarah perjuangan MBO DPRI Sunda Ketjil, tidak terlepas dari pembentukan badan keamanan oleh Presiden pertama RI. Pada 23 Agustus 1945, Presiden RI Ir. Soekarno mengumumkan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan terbentuk badan perjuangan di Bali seperti Pemuda Republik Indonesia (PRI) dan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Pada 1 November 1945, di Singaraja, diadakan rapat membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sunda Kecil yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai. 

I Gusti Ngurah Rai gagal mendapatkan persenjataan dari serdadu Jepang dan melancarkan serangan pada 13 Desember 1945 di Bali, yang berakhir dengan kegagalan. I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya mengundurkan diri ke Puri Kesiman, Kota Denpasar, lalu memutuskan berangkat ke Jawa pada 19 Desember 1946 untuk memohon bantuan. Selama di Jawa, kepemimpinan di Sunda Kecil diambil alih oleh I Made Widjakusuma. Setelah kembali pada 5 April 1946, I Gusti Ngurah Rai mendirikan Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (DPRI) Sunda Ketjil di Banjar Munduk Malang, Desa Dalang, Kabupaten Tabanan pada 16 April 1946.

MBO DPRI Sunda Ketjil di Banjar Munduk Malang Desa Dalang ini, merupakan pusat pertahanan kemerdekaan Negara Kesatuan RI di Provinsi Sunda Kecil, dan dalam menghadapi penjajah Belanda menempuh sistem gerilya. MBO DPRI Sunda Ketjil merupakan cikal bakal berdirinya Kodam IX/Udayana yang berkedudukan di Kota Denpasar.

Jejak kepahlawanan H. Abdurrahim tidak berakhir di medan perang. Menurut cerita cucu-cucunya, almarhum memiliki daya juang yang tinggi, terutama dalam membangun Unizar. Meskipun berlatar belakang zaman gelap dan perjuangan, almarhum gigih mencari jalan mencapai cita-cita, yaitu mendirikan universitas yang memberikan kemudahan akses pendidikan tanpa memandang latar belakang agama.

Tanda Jasa Pahlawan dari Presiden Soekarno kepada Abdurrahim, SH. atas jasanya di dalam perjuangan gerilya membela kemerdekaan negara.

Universitas Islam Al-Azhar, yang diinisiasi oleh almarhum, menjadi simbol kepedulian terhadap pendidikan di NTB. Beliau melihat bahwa banyak orang di Lombok harus pergi jauh ke Bali atau Jawa untuk sekolah. Dengan pemikiran yang luar biasa, almarhum bertekad memberikan kemudahan pendidikan tanpa harus meninggalkan Lombok dan tanpa membebani biaya yang berlebihan. Inilah wujud nyata dari kepemimpinan yang tidak hanya mengabdi pada masa perjuangan, tetapi juga pada pembangunan masyarakat melalui pendidikan.

Dalam setiap langkahnya, almarhum H. Abdurrahim menunjukkan toleransi yang tinggi. Meskipun Unizar adalah universitas Islam, itu tidak membuatnya eksklusif. Sesuai visi Unizar, yaitu “rahmatan lil alamin” (rahmat bagi semesta alam), Unizar membuka pintu untuk semua orang tanpa memandang latar belakang agama. Kehidupan almarhum ditujukan sepenuhnya untuk Unizar, mengesampingkan orientasi profit, dengan nilai-nilai sosial yang tinggi dan tanpa banyak hitung-hitungan.

Tak hanya sebagai tokoh pejuang, H. Abdurrahim juga dikenal sebagai sosok yang, sesuai namanya, penuh welas asih (rahim). Dedikasinya dalam bidang pendidikan tidak hanya menciptakan sarjana, tetapi juga menciptakan pemimpin yang berkualitas. Ada banyak cerita tentang orang-orang yang pernah disekolahkan oleh beliau dan kemudian sukses menduduki posisi penting dalam masyarakat.

H. Abdurrahim, SH. telah meninggalkan warisan berharga dalam sejarah Indonesia, terutama dalam upaya memajukan pendidikan di NTB. Perjuangan dan dedikasi beliau menciptakan landasan kokoh bagi Unizar, sebuah institusi pendidikan yang terus menginspirasi generasi penerus untuk berjuang dan berkembang. Kita mengenang almarhum dengan penuh rasa hormat, sebagai pahlawan yang tidak hanya berjuang di medan perang, tetapi juga di medan pendidikan untuk masa depan bangsa. (*)